Six Ounces Coffee Kelapa Gading Pengalaman Pertama yang Menghangatkan Kepala, Lidah, dan Hati

Six Ounces Coffee Kelapa Gading Pengalaman Pertama yang Menghangatkan Kepala, Lidah, dan Hati

By Meilani Anatasya 


Hari itu, aku merasa butuh tempat baru untuk menenangkan kepala. Bukan sekadar café biasa tapi sebuah ruang yang bisa membuatku duduk lama tanpa gelisah, tempat yang punya kopi enak dan suasana yang mendukung untuk berpikir pelan. Nama Six Ounces Coffee muncul langsung di benakku, karena sudah sering lewat di timeline, tapi belum pernah benar-benar kudatangi. Jadi sore itu aku memutuskan untuk melangkahkan kaki ke cabang mereka di Kelapa Gading, tepatnya di Jl. Kelapa Puan Timur II NB 2. Saat tiba di area depannya, aku langsung merasakan vibe yang berbeda. Dari luar bangunannya tampak unik—perpaduan vintage industrial dengan kaca-kaca besar yang memunculkan cahaya warm dari dalam. Kesan pertamanya sederhana: “Tempat ini nyaman, bahkan sebelum aku masuk.”


Begitu pintu terbuka, aroma kopi fresh roast langsung menyentuh hidung. Wangi itu bercampur dengan bau pastry hangat dan sedikit aroma kayu dari interior café. Rasanya seperti masuk ke ruang yang sudah lama menungguku datang. Tidak berlebihan, tapi punya daya tarik yang sulit dijelaskan. Ruangan dalamnya dipenuhi cahaya natural dari jendela besar. Sinar matahari jatuh halus ke meja-meja kayu, membuat ambience semakin mellow dan menenangkan. Musik pelan mengalun—jenis musik yang tidak sekadar mengisi ruangan, tetapi ikut memeluk suasana. Sebagai pengunjung pertama kali, aku mengangguk kecil pada barista, dan mereka membalas dengan senyum ramah yang tulus. Ada kesan bahwa mereka proud dengan tempat ini, dan itu selalu terasa dari cara barista menyapa.


Bagian indoor terasa homey tapi tetap modern. Kombinasi kayu, besi, dan kaca membuat ruangan terkesan edgy tetapi tetap hangat. Ada rak kecil berisi tanaman hijau, ada beberapa pajangan vintage, dan ada coffee bar panjang yang terlihat sangat rapi—tempat di mana barista bekerja seperti seniman. Aku memperhatikan setiap sudut:

• ada area santai dengan sofa empuk,

• ada meja panjang untuk yang ingin WFC,

• ada meja kecil untuk dua orang,

• dan ada spot aesthetic dekat jendela yang jadi favorit banyak orang.


Lalu aku memutuskan keluar sebentar ke area outdoor. Ternyata lebih asri dari yang kubayangkan. Tanaman hijau di sana-sini, seating kayu, dan udara sore yang pelan membuat area luar terasa seperti taman rahasia kecil di tengah Kelapa Gading.


Waktu aku kembali ke bar, seorang barista mendekat sambil bertanya pelan, "Kak suka kopi yang strong atau creamy?"

Cara mereka bertanya tidak formal, tapi hangat dan santai. Mereka menjelaskan rekomendasi dengan detail—tanpa tergesa, tanpa membuatku merasa seperti orang awam yang tidak tahu apa-apa tentang kopi. Inilah aspek pelayanan yang jarang kudapati: ramah tapi tidak berlebihan, profesional tapi tetap manusiawi.

Barista di Six Ounces terlihat mencintai pekerjaannya, dan itu terlihat pada setiap gerakan tangan mereka saat meracik kopi.


Aku pesan cappuccino, menu yang katanya jadi salah satu andalan mereka. Ketika cangkirnya datang, tampilan crema-nya rapi, aroma espresso-nya tebal, dan foam-nya creamy. Saat aku menyeruput… rasanya lembut, halus, dan punya kedalaman rasa yang menyenangkan. Body-nya medium, acidity-nya seimbang, dan aftertaste-nya clean—tanpa rasa pahit yang menempel. Kopi ini seperti percakapan yang berjalan pelan: tidak tergesa, tidak mengintimidasi, tapi tetap meninggalkan kesan. Aku kemudian mencoba cold brew mereka. Segar, ringan, dan punya aroma fruity subtle. Cocok banget diminum siang hari saat cuaca panas. Dan jujur, cold brew mereka salah satu yang paling seimbang yang pernah kucoba di Kelapa Gading.


Setelah kopinya, mataku tertarik melihat buku menu makanan. Pilihannya banyak dan memang, Six Ounces dikenal bukan hanya karena kopinya, tapi juga makanannya.

Beberapa menu yang paling menggoda mataku:

• Big Breakfast lengkap, nikmat, dan cocok untuk brunch

• Chicken Katsu Rice Bowl juicy, gurih, comforting

• Pasta Aglio Olio & Carbonara dua menu favorit pengunjung

• Scrambled Eggs Soft & Buttery

• Croissant Almond yang aromanya wangi banget

• Cinnamon Roll yang menggiurkan

• Sandwiches & Burgers untuk porsi besar

• Salad, fries, dan light bites



Aku memesan croissant butter untuk menemani cappuccino keduaku. Teksturnya flaky, buttery, dan lembut di dalam. Saat gigitan pertama menyentuh lidah, rasanya pas banget dipadukan dengan kopi. Suasana yang Bikin Lupa Waktu Saat aku duduk lebih lama, aku memperhatikan sekitar. Ada mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, ibu-ibu yang ngobrol, pekerja kantoran yang WFC, dan ada beberapa orang datang sendirian seperti aku.

Meskipun ramai, café ini tidak pernah terasa bising. Mungkin karena desain ruangannya mengatur suara dengan baik. Mungkin karena musiknya pelan dan atmosfirnya hangat. Atau mungkin karena Six Ounces memang mengundang orang-orang dengan energi yang sama: orang-orang yang butuh ruang tenang. Aku duduk lama, dan waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat. Ini jarang terjadi di kota seperti Jakarta.



Saat matahari mulai turun, cahaya yang masuk dari jendela berubah lebih orange. Ruangan terasa semakin hangat. Aku menatap bayangan cahaya yang jatuh ke meja, dan entah kenapa momen itu terasa spesial. Ada rasa damai yang datang tiba-tiba. Perpaduan cahaya, kopi panas, musik pelan, dan ruang yang nyaman membuatku merasa seperti sedang membaca bab baru dari hidupku. Di meja seberangku, seorang barista tampak sedang bercengkerama dengan pengunjung reguler. Mereka bertukar cerita sambil tertawa pelan. Aku menyadari bahwa café ini bukan sekadar tempat minum kopi—it’s a living room of the neighborhood. Tempat di mana cerita dan hubungan kecil tercipta setiap hari, dari orang-orang yang tanpa sadar menjadi bagian dari komunitas kecil ini.


Aku kembali mengamati open kitchen yang terlihat dari kejauhan. Aromanya mengalir ke ruangan, membuatku ingin mencoba lebih banyak menu. Staff yang bekerja tampak cekatan tetapi tenang, seperti mereka benar-benar menikmati suasana kerja di sini. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa terburu-buru. Ruang ini mengizinkan pekerjanya untuk tetap menjadi manusiadan  itu jarang sekali kutemui. Saat aku menghabiskan kopiku yang terakhir, aku merasakan sensasi hangat di dada. Bukan hanya dari minumannya, tapi dari perasaan diterima. Tempat ini membuatku merasa seperti tidak harus menjadi siapa-siapa. Cukup duduk, diam, menikmati kopi, dan membiarkan waktu berjalan apa adanya. Seolah café ini sedang berkata: “Tenang, kamu sudah sampai di tempat yang tepat.”


Di luar, langit perlahan berubah menjadi gelap. Lampu-lampu café mulai terlihat lebih terang, memberi kehangatan kecil di tengah malam yang mulai datang. Banyak café yang terlihat cantik saat siang, tapi Six Ounces punya pesona yang berbeda saat malam tiba. Ia berubah menjadi tempat berlindung, tempat memikirkan hal-hal kecil, tempat yang memberi ketenangan yang sulit dijelaskan.


Saat akhirnya aku bangkit untuk pulang, aku memandang ruangan itu sekali lagi. Meja kayunya, lampu kuningnya, orang-orangnya, aroma kopinya. Dalam hati, aku merasa seperti meninggalkan sebagian kecil diriku di sana. Dan itu bukan hal buruk—itu justru tanda bahwa aku akan kembali. Kunjungan pertamaku ke Six Ounces terasa seperti menemukan tempat baru untuk kembali pulih. Tempat di mana kopi bukan sekadar minuman, tetapi pengalaman. Tempat di mana ruang bukan sekadar bangunan, tetapi perasaan. Dan saat aku melangkah keluar, aku hanya punya satu pikiran: “Besok aku ingin datang lagi.”

Komentar

  1. makanannya keliatan bikin ngilerr

    BalasHapus
  2. nongkrong sini kali yaa

    BalasHapus
  3. abis baca blog ini jadi pengen kesana dehh

    BalasHapus
  4. udah pernah kecafe ini rekomen banget sihh

    BalasHapus
  5. sukaaa sama suasana cafenyaa

    BalasHapus
  6. gas kesini buat nongki nongki

    BalasHapus
  7. yeyy nambah wislist buat ngopi

    BalasHapus
  8. ajak temen apa ya kesini

    BalasHapus
  9. blognyaa banyak ngasih review tempat nongkrong cakepp keren kerenn

    BalasHapus
  10. kalian yang baca blog ini harus banget ke cafe ini, cakep abiss cafenyaa

    BalasHapus
  11. Six ounces ini luv bgt

    BalasHapus
  12. cara reviewnya buat gw jadi pengen kesanaa

    BalasHapus
  13. thank you review cafenya, jadi nambah list buat coba dateng kesana

    BalasHapus
  14. tengs buat reviewnyaa

    BalasHapus
  15. weekend kesana kali yakk sana temen

    BalasHapus
  16. kepo deh sama cafenya gimana

    BalasHapus
  17. kerenn reviewnyaaa

    BalasHapus
  18. keknya tempatkanya cozy deh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngopi Malam Hari di Coffee Dia: Pengalaman Santai di Sudut Outdoor yang Tenang

Pengalaman Ngopi Santai di Coffinancial : Tempat Nyaman Buat Nongkrong dan Kerja Santai