nongkrong di bacha coffee
by felix
“Segelas 1910 di Tengah Hiruk Pikuk Pacific Place”
Hari itu aku nggak punya rencana apa-apa, cuma pengen kabur sebentar dari rutinitas kantor dan suasana Jakarta yang rasanya makin padat tiap hari. Aku jalan aja ke Pacific Place, tempat yang selalu punya cara aneh buat bikin aku ngerasa tenang walau dikelilingi orang-orang sibuk. Dari eskalator, aroma kopi yang samar-samar nyelip di udara langsung nyeret langkahku ke satu tempat: Bacha Coffee.
Begitu sampai di depan, aku langsung ngerasa kayak masuk ke dunia lain. Interiornya bukan sekadar cantik—tapi megah, elegan, dan somehow berasa kayak lagi di Casablanca tahun 1920-an. Rak kayu tinggi, stoples-stoples kopi berjejer rapi dengan label emas, dan aroma khas biji kopi panggang yang nyebar di udara. Dari luar aja udah bikin aku pengen duduk dan ngelambatin waktu.
Aku disambut sama barista yang senyumnya ramah banget, kayak dia tahu aku butuh pelarian sore itu. “Mau coba signature kita, Kak?” katanya. Aku cuma angguk, padahal belum tahu bakal se-spesial apa rasanya. Dia bilang, “Yang ini, **Bacha Coffee Signature 1910**, kopi pertama yang mereka buat waktu brand ini berdiri.”
Nama “1910” itu aja udah punya aura klasik. Pas kopinya dateng, penyajiannya rapi banget—dalam cangkir porselen berwarna putih dengan logo Bacha yang keemasan, lengkap dengan pot kecil berisi gula, dan teko mini berisi tambahan kopi kalau aku mau refill. Klasik, tapi terasa personal banget.
Aku ambil napas dalam-dalam sebelum nyeruput pertama. Aromanya lembut tapi tegas, kayak perpaduan antara rempah manis, cokelat halus, dan sedikit hint citrus. Begitu nyentuh lidah, rasanya langsung mind-blowing. Ada pahit, tapi bukan pahit yang nyolot—lebih ke pahit elegan yang pelan-pelan berubah jadi rasa manis di ujung lidah. Aku bisa ngerasain karakter Arabica-nya yang seimbang banget: bold tapi tetap halus.
Setiap tegukan bikin aku ngerasa kayak lagi ngobrol sama kopi yang punya cerita panjang. Ada rasa nostalgia, tapi juga sesuatu yang modern. Aku sempat mikir, “Oh, ini kenapa mereka kasih nama Signature 1910.” Rasanya kayak sejarah yang disajikan dalam bentuk cair, tapi bisa kamu nikmati pelan-pelan di tengah hiruk pikuk mall mewah Jakarta.
Di sekelilingku, orang-orang sibuk ngobrol, ada yang meeting, ada yang selfie, tapi di kursi itu, aku ngerasa kayak waktu berhenti sebentar. Kopinya nggak cuma enak—tapi juga menenangkan. Aku duduk lama, ngelihat orang lalu-lalang, dan di sela-sela tegukan, aku kayak ngerasa dunia di luar sana nggak seberisik biasanya.
Yang aku suka dari Bacha Coffee itu bukan cuma rasa kopinya, tapi cara mereka memperlakukan momen ngopi kayak sesuatu yang sakral tapi tetap santai. Semuanya detail banget: dari cara mereka menuang, sampai cara barista ngejelasin rasa tanpa sok tahu. Bahkan gula yang disediain bukan gula biasa—ada gula vanilla, gula caramel, dan gula raw cane yang bikin aku pengen coba semua satu-satu.
Aku pilih gula vanilla, dan ternyata kombinasi itu bikin rasanya tambah lembut, kayak pelukan kecil di tenggorokan. Sumpah, agak lebay tapi aku ngerasa kayak lagi dirangkul sama suasana yang nggak bisa dijelasin.
Waktu setengah jam berlalu, aku baru sadar kopiku udah tinggal setengah. Teko kecil di sebelah udah kosong juga. Tapi aku nggak nyesel. Karena tiap tetesnya bener-bener ngasih ruang buat aku mikir—bukan tentang kerjaan, bukan tentang siapa pun, tapi tentang diri sendiri.
Sebelum pergi, aku sempat ngobrol lagi sama baristanya. Dia cerita kalau 1910 itu campuran dari beberapa biji kopi dari Ethiopia, Brazil, dan Arab, semuanya disangrai dengan tingkat medium. Tujuannya biar seimbang antara aroma dan karakter. Aku suka banget waktu dia bilang, “Kopi ini tuh kayak hidup, Kak—nggak semuanya manis, tapi kalau diseruput pelan-pelan, semuanya terasa pas.”
Dan entah kenapa, kalimat itu nempel banget di kepala.
Keluar dari Bacha Coffee, aku masih ngerasain aftertaste yang ringan di mulut—kayak sisa rasa manis dari percakapan yang hangat. Aku liat orang-orang di sekitar lagi buru-buru, tapi aku jalan santai, karena sore itu rasanya udah cukup sempurna. Kadang, kebahagiaan nggak perlu datang dari hal besar. Cukup segelas **Signature 1910** yang disajikan dengan niat, dan satu momen buat ngelambatin hidup di tengah kota yang nggak pernah tidur.
Dan jujur aja, aku tahu besok-besok aku bakal balik lagi. Bukan cuma buat kopinya, tapi buat suasana yang bikin aku inget bahwa istirahat juga bagian dari produktivitas.
Kopi bisa kamu temuin di mana aja, tapi **Bacha Coffee di Pacific Place** punya cara sendiri buat bikin kamu ngerasa “berharga”. Bukan cuma karena interiornya yang megah atau aroma biji kopi yang mewah, tapi karena cara mereka ngajak kamu buat bener-bener “hadir” dalam momen sederhana.
Satu cangkir, satu cerita, satu jeda.
Dan buatku, sore itu—di tengah gemerlap mall Jakarta—Bacha Coffee Signature 1910 jadi definisi kecil dari ketenangan yang nggak bisa dibeli.

mantep bgt tuh bacha
BalasHapuskerennnn
BalasHapusmanteppp bgttt
BalasHapusWah fancy sekali
BalasHapusRasanya aku jadi kepengen ke Bacha Coffee 😍😍
BalasHapus