Pengalaman Ngopi di Kafe Konon: Antara Aroma Kopi dan Nuansa Klasik yang Menenangkan
By Andrean Tjong
Beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari kos yang hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk duduk dan menikmati secangkir kopi. Setelah menelusuri beberapa rekomendasi di media sosial, nama Kafe Konon muncul berulang kali. Banyak yang bilang tempatnya unik dan punya suasana klasik yang bikin nostalgia. Rasa penasaran akhirnya membawa saya ke sana dan begitu sampai, saya langsung tahu kenapa tempat ini banyak dibicarakan.
Begitu melangkah masuk ke dalam Kafe Konon, kesan pertama yang saya rasakan adalah hangat dan ramah. Warna dindingnya kuning tua, agak kusam tapi justru memberi kesan lembut dan nostalgic. Bukan kuning terang yang menyilaukan, melainkan warna yang mengingatkan saya pada rumah-rumah lama di masa kecil seperti rumah nenek dengan pencahayaan redup, penuh kenangan, dan aroma kayu yang khas. Di depan, ada meja kasir dari kayu dengan etalase kaca di bawahnya. Etalase itu penuh dengan roti dan camilan jadul yang dikemas rapi: roti cokelat, pandan, keju, singkong goreng kering, sampai kue-kue kecil yang rasanya pasti akrab di lidah. Semuanya dibungkus dengan plastik bening dan label merah kecil bertuliskan nama “Konon”. Sekilas, tampilannya seperti toko roti pada zaman dulu yang kelihatannya sederhana tapi menggugah selera.
Di belakang kasir, ada papan tulis besar berwarna hitam yang dipenuhi tulisan kapur putih. Di sana tertulis berbagai menu kopi dan makanan. Tulisan tangan yang tidak seragam justru menambah kesan homey, seolah papan itu sudah lama ada dan terus diperbarui dari waktu ke waktu. Semua terasa sangat personal, bukan seperti kafe modern yang serba steril dan formal. Lampu-lampu kecil di langit-langit menyorot lembut ke arah kasir. Saya memperhatikan detail kecil seperti kipas dinding yang berputar pelan dan pot bunga kecil di pojok meja. Walaupun terlihat sederhana, tetapi setiap elemen terasa seperti punya tujuan untuk memperkuat suasana klasiknya. Tidak ada musik keras atau aroma parfum sintetis, hanya wangi kopi segar dan roti panggang yang hangat.
Setelah menunggu sebentar, seorang pegawai datang membawa selembar menu yang dilaminasi. Begitu saya membukanya, saya langsung tertarik dengan desainnya. Menu itu dibuat dengan gaya retro, lengkap dengan elemen visual yang mirip seperti buku catatan warung kopi tempo dulu. Tulisan “Minum Kopi Yoek!” di bagian atas menambah kesan santai dan lokal. Pilihan menunya beragam, mulai dari kopi klasik seperti Kopi Ireng Jadul, Kopi Soesoe, Americano, Kopi Butter sampai varian modern seperti Caramel Macchiato dan Brown Sugar Coffee. Selain itu ada juga minuman nostalgia seperti Teh Padi, Es Lemoon, Milo, Soda Gembira, bahkan Coffee Beer yaitu salah satu minuman yang jarang saya lihat di kafe modern.
Untuk makanan, ada daftar yang menggoda dengan nama-nama unik seperti Kari Ayam Konon, Nasi Goreng Pandu, Bakmi Ayam Konon, dan Hainam Peng. Di sisi bawah menu, tertulis beberapa paket yang lucu penamaannya, misalnya “Paket Satoe”, “Paket Doea”, sampai “Paket Lima”. Saya sempat tersenyum membaca semua itu karena terasa seperti sedang membaca menu dari warung era 70-an, tapi dihadirkan kembali dengan sentuhan modern. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan Kopi Butter. Alasannya sederhana yaitu karena saya belum pernah mencoba kopi yang dicampur butter, dan namanya terdengar menarik. Untuk teman ngopi, saya pesan Rich Toast, roti panggang yang sederhana tapi selalu berhasil melengkapi suasana ngopi. Pegawai yang melayani saya mencatat pesanan sambil tersenyum ramah dan berkata, “Nanti saya antar ke meja ya, Kak.” Kemudian saya mengangguk dan berterima kasih dan mulai mencari tempat duduk.
Begitu melangkah ke area dalam, nuansa klasiknya semakin terasa. Lantai hitam-putih bermotif papan catur langsung menarik perhatian. Motif ini jarang sekali saya lihat di kafe modern, tapi di sini justru membuat ruangan terasa hidup dan khas. Di dinding kiri, tergantung beberapa piring kaligrafi Cina dan poster jadul dengan warna pudar, seperti hiasan rumah lama yang dipajang kembali dengan penuh arti. Lampu gantung dengan tudung logam berwarna kuning tua menggantung rendah di atas setiap meja, memberikan cahaya hangat yang membuat ruangan tampak tenang. Kursi dan meja dari rotan serta kayu polos tanpa cat mengkilap memperkuat kesan vintage-nya. Tidak ada elemen modern seperti kursi besi atau meja kaca tetapi semuanya seragam dalam nuansa klasik, seperti ingin menjaga “cerita lama” agar tetap hidup di tengah dunia modern.
Satu hal yang paling mencuri perhatian saya adalah dinding di sisi kanan ruangan. Dinding itu penuh dengan kertas warna-warni berbentuk hati dan awan kecil yang digantung berjejer rapi. Ternyata itu adalah tempat pengunjung menulis pesan, harapan, atau curahan hati. Dari jauh saja sudah terlihat menarik, tapi ketika saya mendekat, tulisan-tulisan itu membuat ruangan terasa hidup. Ada pesan yang lucu, seperti “semoga skripsi saya cepat selesai,” dan ada yang romantis, “terima kasih sudah menemani malam-malam sepi.” Semua kertas itu membuat ruangan terasa seperti museum kecil dari perasaan manusia yang jujur, hangat, dan berwarna. Kemudian saya memilih meja di pojok, dekat dengan dinding penuh kertas itu. Dari situ, saya bisa melihat hampir seluruh ruangan dari barista yang sibuk di kasir, etalase roti yang berkilau di bawah lampu, sampai pengunjung lain yang sedang asyik berbincang. Semuanya terasa pas.
Tak lama kemudian, pesanan saya datang. Barista membawa nampan kecil berisi Kopi Butter dalam cangkir cokelat tua dengan piring kecil senada. Dari tampilannya saja, saya langsung bisa merasakan nuansa klasiknya. Tidak ada hiasan art latte atau busa tebal seperti di kafe modern, hanya secangkir kopi hitam pekat dengan permukaan sedikit berkilau karena lelehan butter di atasnya. Aroma kopinya langsung memenuhi hidung saya. Wangi butter yang gurih berpadu dengan aroma biji kopi yang kuat, menciptakan sensasi harum yang berbeda dari kopi biasanya. Saya aduk perlahan, lalu menyeruputnya sedikit. Rasanya sedikit unik karena ada pahit khas kopi hitam, tapi juga gurih lembut yang melapisi lidah. Butter-nya memberi tekstur creamy alami tanpa membuat rasanya terlalu berat.
Saya menyeruput lagi, kali ini lebih dalam. Hangatnya kopi menyebar di tenggorokan, meninggalkan aftertaste yang halus. Rasanya tidak manis, tapi ada keseimbangan yang menenangkan. Mungkin karena itu dinamakan Kopi Butter bukan untuk menunjukkan kemewahan bahan, tapi untuk menekankan rasa “lembut” dan “hangat” yang sulit dijelaskan dengan kata lain. Saya membayangkan ini mungkin rasa yang sama seperti orang-orang nikmati di warung kopi zaman dulu sebelum dunia kafein jadi serumit sekarang. Sambil menikmati kopi, saya mulai memperhatikan lebih banyak detail dari ruangan ini. Ada kipas angin dinding tua di pojok ruangan yang terus berputar pelan, mengingatkan saya pada suasana ruang tamu rumah-rumah lama. Lantainya yang bermotif papan catur memberi kesan klasik tapi tetap bersih dan terawat. Lampu gantung kecil dengan cahaya kekuningan membuat suasana semakin lembut.
Saya sangat suka dengan cara Kafe Konon menjaga keseimbangan antara nostalgia dan kenyamanan modern. Semua elemen klasiknya terasa autentik, bukan dibuat-buat. Misalnya, dinding yang dicat kuning tidak sepenuhnya halus, ada bagian yang sedikit mengelupas, tapi justru itu yang memberi karakter. Ruangan ini tidak berusaha menjadi “kafe Instagramable” dengan dekorasi berlebihan. Sebaliknya, Kafe Konon seolah ingin membawa pengunjungnya untuk sedikit melambat, menikmati momen, dan mengingat bahwa hal sederhana pun bisa memberi rasa nyaman. Dalam diam, saya merasa seperti sedang berada di ruang waktu yang lain yaitu antara masa lalu dan masa kini.
Setelah hampir satu jam, saya menatap kembali cangkir kopi yang sudah hampir kosong. Di permukaannya hanya tersisa sedikit cairan gelap dengan bekas minyak halus dari butter. Saya menarik napas pelan dan merasa tenang. Tempat ini berhasil memberi sesuatu yang sederhana tapi sulit ditemukan di tempat lain yaitu rasa yang nyaman. Saya berdiri dan melangkah ke arah kasir untuk melakukan pembayaran atas pesanan saya. Sebelum keluar, saya sempat menatap sekeliling ruangan sekali lagi. Cahaya kuning lembut dari lampu gantung memantul di lantai, membuat bayangan kursi dan meja tampak hangat. Dinding penuh tulisan di sisi kanan tampak semakin hidup karena lampu sorot di atasnya. Semua itu menciptakan kesan bahwa Kafe Konon bukan hanya tempat ngopi, tapi juga ruang cerita untuk orang yang datang untuk menikmati waktu, mengenang, dan mungkin menulis sedikit bagian dari hidupnya. Saya melangkah keluar dengan perasaan ringan. Di luar, udara sore terasa sejuk. Saya pikir, mungkin inilah yang membuat orang betah di Kafe Konon: bukan hanya karena kopinya, tapi karena ruangannya yang klasik dan hangat, yang membuat siapa pun merasa seperti pulang ke rumah lama yang penuh kenangan.
Jadi menurut saya kesimpulannya adalah bahwa Kafe Konon memberi pengalaman yang berbeda dari kebanyakan tempat ngopi modern. Semua detailnya, mulai dari warna dinding kuning, perabot kayu, kipas tua di pojok ruangan, sampai papan tulis kapur di kasir yang membentuk atmosfer klasik yang dapat membawa kita ke masa lalu tanpa terasa kuno. Saya merasa seperti sedang duduk di tengah pertemuan dua dunia: dunia lama yang penuh kenangan dan dunia baru yang serba cepat. Di sini, waktu berjalan lebih lambat, tapi justru di situ letak kenikmatannya. Kafe Konon bukan sekadar tempat minum kopi, tapi tempat untuk menikmati keheningan, mengingat, dan merasa hidup dengan cara yang sederhana.




mantap bangett
BalasHapusMntp
BalasHapusharus dicoba nih
BalasHapusburuan kak cobainn
HapusRekomendeddd bget 😍
BalasHapuspastinya dongg
HapusWajib bngt mampir sih ini
BalasHapusburuan cobain kak
Hapus
BalasHapusTempatnta bagus bget
cocok banget tuh kak, buat orang yang suka foto2 hehe
HapusAroma kopiny mantappp
BalasHapusLike bnget sama kopi yg disajikan
BalasHapusGaas Oteeweee
BalasHapusgaskan kakk
Hapusmau cobainn juga deh jd nyaaa
BalasHapuslangsung aja gaskan kak
HapusCUUSS OTW INI MAAHHHHH
BalasHapuslangsung aja kak
Hapuswah wajib coba langsung ke kafe nya sih ini
BalasHapusburuan cobain kakk
Hapusngopi bareng temen pasti asik banget
BalasHapuswajib bareng temen dong biar ada temen ngobrolnya haha
HapusBacanya serasa ikut duduk di pojokan Kafe Konon sambil nyeruput kopi dan denger lagu lawas
BalasHapushehehe makasi kak
HapusBaru aja dari sini kemarin
BalasHapusgimana kak, emang worth it kan tempatnyaa
HapusTempatnya keliatan punya jiwa ya, bukan cuma sekadar kafe tapi juga tempat buat menenangkan diri
BalasHapusbener banget kak, harus cobain langsung nih ke kafe kononnya langsung
HapusKafe kayak gini tuh langka sekarang. Semua dikejar estetik, padahal yang dicari cuma rasa tenang kayak gini
BalasHapusmendingan cafe yang vintage begini soalnya bisa ngasih kesan yang beda gitu
HapusRekomendasi bnget tempatnya untuk buat tugas sekolah. Soalnya tenang bget
BalasHapusbener banget kak
HapusBolehh bnget ni skripsian disini
BalasHapussung aja kak
HapusBukan cuma review kafe, tapi kayak surat cinta buat tempat yang sederhana tapi berarti
BalasHapusJarang bnget ada tempat setenang ini
BalasHapusYg jdi perhatian tuh tempatnya. Gak bising masyaallahh
BalasHapusbener banget kak pas saya disitu juga tempatnya tenang banget
HapusTempat favorit untuk menenangkan diri
BalasHapusTulisan ini bikin sadar kalau kadang kebahagiaan itu cuma butuh secangkir kopi dan suasana yang pas
BalasHapussetuju banget kak
HapusKafe Konon kayak tempat buat ngilang bentar dari dunia yang terlalu cepat ya
BalasHapusbetul banget kak hehe
HapusSuka banget gaya nulisnya, adem tapi dalam. Kayak beneran ngerasain tiap detil tempatnya
BalasHapusmakasi ya kak, jangan lupa tuh cobain kopi kononnya
HapusGaya penulisannya tuh storytelling banget, bukan cuma review tapi pengalaman yang hidup
BalasHapushehe makasi banyak kak
HapusBener-bener bisa ngebawa imajinasi ke sana, padahal cuma baca teks
BalasHapushehe makasi kak
HapusKayaknya tempatnya estetik banget ya, apalagi vibes klasiknya
BalasHapuspastinya dong kakk
HapusTulisan ini tuh kayak pelukan lembut buat orang yang lagi capek sama dunia modern
BalasHapusDeskripsinya detail banget, sampai aroma kopinya kayak kecium
BalasHapushehe makasi banyak kak
HapusBaru baca aja udah berasa nostalgic vibes-nya, keren banget tulisannya
BalasHapushehe makasi kak
HapusLangsung pengen ngopi di sana juga, suasananya kebayang tenangnya
BalasHapuswajib banget nih ngopi disini soalnya enak banget menu-menunya
HapusTulisan ini bikin aku sadar kalau ngopi itu juga soal suasana, bukan cuma rasa
BalasHapusbener banget kak, kadang kalo cuma rasa doang yang enak tapi suasanya kurang gitu jadinya kek ada yang kurang aja si
HapusWidihh bagus banget vibes nya, boleh lah buat nongki sambil galau kayaknya mendukung banget
BalasHapuslangsung cobain aja ka haha
HapusInteriornya yang indah, dan suasananya sangat menarik bagi saya. cocok nih bisa belajar di sini atau bersantai bareng teman-teman. Semua roti nya sudah pasti lezat dan sepadan dengan kopi nya.
BalasHapusdari kopinya aja enak apalagi menu yang lain kann, yuk buruan cobain menu2 di kafe konon
Hapusyang demen sama kopi, kalian wajib banget cobain kedai kopi ini! Variasi kopi hingga Roti nya disini cukup terlihat nikmat, dan pelayanan juga oke.
BalasHapussetuju bangett
HapusKEREENN.. Kualitas penyajiannya cukup bersih, di tambah pelayanan kepada pelanggan yang sangat baik, sambutan hangat & staf sopan.
BalasHapuspasti dongg
Hapustempat nya cocok banget buat yang cari suasana tenang, nyaman tapi vibes tetap bersemangat.
BalasHapusbener banget tuh kak, pas disitu juga aku ngerasa nyaman banget sampe gamau keluar lagi dari kafenya
Hapus